Keberadaan Desa Besari di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat menjadi misteri hingga saat ini. Penduduk setempat percaya bahwa desa dan penduduknya masih ada, meskipun tidak terlihat.

Desa Besari diyakini terletak di Dusun Kertaraharja, Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara. Kepala Adat Dusun Kertaraharja, Amiq Kholid, menceritakan asal mula hilangnya Desa Besari pada akhir abad ke-17.

Saat itu, gelang es kerajaan Karangasem untuk menaklukkan Mataram dan kemudian mendirikan pusat kerajaan Mataram di Cakranegara,” ujarnya. Kerajaan Karangasem dikuasai oleh situasi di Kedatuani Raya. Tempat yang makmur dengan orang-orang yang terlibat dalam perdagangan dan pertanian.

Legenda hilangnya desa Besari

Kerajaan Karangasem menawarkan kerjasama dengan pimpinan Kedatuan Besari. Namun, Datu atau Raja Besari menolak tawaran tersebut. Hingga raja Karangasem mengirim tentara untuk menyerang Besari. Jangan diam, Datu Besari mengirimkan 100 bus 200 tentara ke pintu masuk Kedatuan.

Para prajurit ini berusaha menghentikan serangan Kerajaan Karangasem sehingga tidak bisa mengendalikan pertumpahan darah. Namun, pihak Kerajaan Karangasem membatalkan tawaran perdamaian tersebut. Raja Besari, menurut Amiq Kholid, kemudian memerintahkan seluruh penduduk untuk berkumpul di Kedaton dengan ternaknya.

Ketika semua berkumpul, Datu mengambil batok kelapa berisi air dan berdoa,” kata Amiq Kholid. “Air itu digunakan untuk mengairi seluruh wilayah kerajaan. Sejak saat itu, kerajaan Besari menghilang dan wilayahnya berubah menjadi hutan.”

Amiq Kholid melanjutkan bahwa tentara yang berdiri di pintu masuk Kedatuani Raya tidak menghilang. Mereka berduka karena ditinggalkan. Namun, dia diberi suara misterius dengan nasihat bahwa mereka akan setia menceritakan kisah ini kepada generasi mendatang. Dari sana, kisah hilangnya misterius desa Besari diturunkan dari generasi ke generasi.

Peninggalan desa Besari

Bukan hanya cerita, kata Amiq Kholid, ada beberapa peninggalan Kedatuan Besari yang bisa menjadi murid. Semua ini disimpan di museum desa Genggelang. Peninggalan Datu Besari antara lain rompi raja, lampu, tinta, gelang, piring dan papan warg sebagai referensi ilmu perbintangan atau astrologi kuno.

Sejarah misterius desa Besari

Meski Desa Besari sudah menghilang, Amiq Kholid mengatakan ada beberapa orang yang mengaku bisa melihat bentuk desa dan berinteraksi dengan warganya. “Sebagian besar merasa seperti orang luar,” katanya.

Saat gempa Lombok 2018 terjadi, Amiq Kholid mendapat cerita dari petugas kesehatan yang merawat banyak pasien, namun tidak ada catatan. Petugas kesehatan mendirikan posko di pintu masuk air terjun Kerta Gangga yang letaknya sangat dekat dengan Desa Besari yang kini menjadi hutan. Relawan melayani orang-orang yang menginginkan pengobatan.

“Anehnya, yang berobat datang dari pagi hingga subuh,” kata Amiq Kholid. Di pagi hari, dokter yang ingin memverifikasi identitas pasien terkejut karena semua tulisan atau catatan telah hilang. “Tim medis dan militer pos itu kagum.”

Beberapa hari kemudian, muncul keluhan tentang kinerja petugas di posko relawan, karena dianggap tidak bertugas merawat warga Desa Genggelang. Para dokter dan tentara yang bertugas pun semakin heran karena mereka selalu melayani setiap orang yang datang ke posko.

Kemudian dua petugas posyandu datang ke Kantor Desa Genggelang untuk mengklarifikasi aduan tersebut. Perangkat desa kemudian menentukan warga desa mana yang dilayani oleh petugas posyandu. Ketika mereka menjawab warga desa Besari, aneh sekali karena desa itu tidak nyata,” kata Amiq Kholid.

Ada juga kisah seorang penjual tikar yang mengaku pernah masuk ke desa Besari. Tikar yang dibawanya laris manis dan dia mendapat untung besar. Pedagang itu kemudian ingin kembali ke desa. Sebelum itu, ia bertemu dengan seorang warga desa Genggelang.

Penduduk desa Genggelang bertanya kemana saudagar itu pergi. Saudagar itu membalas ke desa Besari,” kata Amiq Kholid. Setelah mendapat penjelasan, saudagar itu menyadari bahwa desa Besari yang dicarinya berupa hutan belantara.

Survei Arkeologi Desa Besari
Direktur Institut Studi Sosial Politik Mi6, Bambang Mei Finarwanto, mengatakan keberadaan desa Besari bisa dijelaskan dengan tidak lengkapnya